Tiga Faktor

Posted: May 19, 2016 in AlimutsuguA

Ku tengok blog yang sudah lama tak terisi ini. Sepi. Hanya itu kata yang terbesit di dalam otakku saat membukanya. Aku sedikit merasa iba pada blog ini. Dari yang awalnya semangat banget mau nulis, lama kelamaan ditinggal juga. Dengan kata lain, cuma semangat di awal saja. Lalu muncul kata tanya, kenapa Menurut analisaku, yang pertama adalah mager, kedua sibuk, dan ketiga gak ada inspirasi.

Aku akan sedikit berkomentar tentang ketiga faktor tersebut. Mulai dari yang pertama yaitu mager. Di dunia ini, pasti tidak ada orang yang tidak pernah mager. Mager atau males gerak itu manusiawi kok, gimana kitanya saja yang menyikapi hal itu. Mager boleh, tapi jangan berkelanjutan, setidaknya itu yang aku pelajari selama 18 tahun aku hidup. Mungkin aku harus menyertakan contoh kasus, biar bisa lebih dipahami.

Misalkan ada seorang ibu yang mempunyai dua anak lelaki. Anak lelaki yang pertama berumur 14 tahun dan yang kedua baru berumur 3,5 tahun. Ibu tersebut tidak sengaja menumpahkan minuman di lantai dan tiba-tiba ia kebelet pipis.

“Randooo, tolong dulu pel lantai ini, ibu mau pipis,” teriak ibu kepada Rando, anaknya yang berumur 14 tahun, dan sedang tidur-tiduran di kamarnya.

“Iya buuu, nanti yaaa,” balas Rando.

Nanti di sini diutarakan karena suatu kemageran yang sedang dialami Rando.

Lima menit kemudian terdengar suara JEDUG yang keras diikuti tangisan yang tidak kalah keras. Rando yang hampir bermimpi itu langsung turun dari ranjang dan melihat apa yang terjadi.

Mata Rando pun terbelalak saat melihat adikknya terkapar di lantai tempat minuman ibunya tumpah. Tidak salah lagi, adiknya terpeleset karena air itu. Rando langsung merasa sangat bersalah karena ia mager ketika disuruh ibunya. Kalau saja ia magernya hanya semenit, pasti adikknya masih bisa terselamatkan. Kelanjutan kisahnya, tidak akan ku ceritakan di sini, biarlah kamu saja yang berimajinasi sendiri.

Inti dari kisa Rando ini, seperti yang aku bilang; mager boleh, tapi jangan berkelanjutan. Cukup semenit dua menit aja magernya, setelah itu jangan mager. Atau kalau gak mager lebih bagus lagi, hehe.

Yang kedua, sibuk. Sibuk itu hal yang biasa kalau udah kuliah. Tiap hari pasti sibuk, sibuk kuliah, belajar, praktikum, berorganisasi, main, dll. Masalahnya di sini bukan karena sibuknya, tapi prioritasnya. Mungkin orang-orang yang sibuk di sini, lebih memrioritaskan hal lain ketimbang mengisi blog basagita ini. Gapapa, itu hak masing-masing kok. Aku pun baru menulis blog ini lagi ketika sudah libur panjang. Yah, harapan aku sih, sesibuk apapun admin di sini, tetap tidak lupa kalau punya blog yang kepingin di isi, hehe.

Yang terakhir, gak ada inspirasi. Hey, kamu pernah dengar gak pepatah bilang; Jangan menunggu terinspirasi baru menulis, tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu. Kalau menurut aku, ini bener banget. Karena pas mau nulis entri ini pun, aku gak ada inspirasi sama sekali. Tapi pas udah mulai nulis, tiba-tiba inspirasi itu muncul gitu aja, udah kayak dapet keajaiban. Jadi, ini sama sekali bukan alasan gak mau nulis lagi, okay?!

Mungkin segini saja untuk entri kali ini. Maafin kalau aku, selaku salah satu admin dari beradmin-admin di sini, jarang ngepost apa-apa. Semoga entri kali ini bisa memotivasi kamu untuk terus menulis, ya! Salam sayang dari anak rantau yang lagi menikmati kegabutan liburan!

 

-AlimutsuguA-

rantau

Posted: January 16, 2016 in Uncategorized

Sekian hari lagi menuju pulang. Tidak lupa dengan harapan untuk kembali.

Tapi sekarang hanya ingin pulang.
Berteduh di bawah pelukan mama yang penuh kehangatan. Menyusun kembali hal-hal yang tertinggal di kampung halaman. Serta mengukir cerita tentang kami yang tidak boleh terpisahkan. Maksudku, di antara berbagai kata yang tertulis hingga terucap, selalu membawa ku kembali ke kampung halaman.

Jakarta si kampung halaman, kembali ke dekapan Ibukota yang tangannya terpenuhi oleh duri. Tajam! Duh, tajam sekali durinya! Sampai bisa berbekas di lubuk hati.

Tetapi saya harus pulang. Pulang menemui Ibukota. Pulang ke Jakarta, tempat yang pernah menjadi kumpulan pahit-manis kehidupan masa muda. Sebuah latar dari cerita seorang remaja yang masih sibuk meminta doa dari orang tua, tapi selalu saja lupa artinya tahu diri.

 

 

–you–

Terbit yang Tertunda

Posted: May 1, 2015 in Maria Utari

Angka yang selama ini kita kejar
Jangan mengelak, realita ceritakan segalanya
Tuntutan Penguasa atau keinginan rakyat belaka
Tak ada terdakwa
Semua jadi budaya, bukan?

Ingin teteskan air mata
Namun, semua kan sia-sia
Tak ada embun yang mampu selamatkan
Sang jenius sejati yang tak sampai lima
Yang penting nilai, bukan?

Ya, sang papa dapat cicipi si bangku kayu
Tetapi semua masih butuhkan nominal
Kertas yang kontrol insan
Namaku hanyalah simbol
Perjuanganku belum sampai akhir, bukan?

Hormat dan kasih padamu, Ki Hajar Dewantara.
Selamat Hari Pendidikan Nasional.

02.05.2015.
Maria Utari.

Mencintai Pembohong

Posted: April 17, 2015 in B.S.C

Lelah sendiri,
Menyepi..
Disayat cinta,
Diradang hening..

Sendiri? Untuk siapa
Bersama? Untuk apa
Semuanya sama saja
Bahagia dunia itu berhala
Semuanya sama saja

Kaya raya? Hati ciut
Miskin harta? Dihadang kabut
Semuanya sama saja..
Sama saja
Untuk apa
Untuk siapa

Untuk kali ini saja,
Kelabui aku,
Beri aku cahaya itu,
Terangi aku
Meski itu palsu,
Kasihilah daku,
Aku pilu

Semua sama saja
Sama saja

B.S.C
300315

Intip

Posted: March 17, 2015 in Maria Utari

Aku melihatmu lagi hari ini.

Dan asmara mulai mengusik.

Ah, aku tak pernah lelah untuk melepaskan mataku dari postur tubuhmu. Postur tubuh yang membungkuk sempurna menghipnotisku, membuat seketika pipiku memerah setiap kali melihatnya.

Tuan, aku tahu Tuan tak akan pernah berbalik melihatku namun aku tak ingin melepasmu untuk waktu yang cukup lama dari tatapanku walau medium menghalangi kita.

Tetapi, sepertinya Tuan terlalu sibuk dengan cairan-cairan di tangan. Mencampurkan setiap jenis senyawa yang tak pernah ku pelajari kembali sejak aku berbalik untuk mengikuti jejak August Comte. Jadi, jangan salahkan bila aku sebut apa yang Tuan genggam adalah kekeliruan, itu bukan keahlianku.

Siapa peduli, aku hanya acuh kepadamu, bukan apa buatan dari larutan berwarna biru terang itu. Acuh kepada rambut ikalmu yang terikat rapi nan mempertegas wajah tirus terbakar sinar matahari. Kedua tangan yang ramping masih memegang pipet berisi cairan yang mungkin dapat merusak tangan terbalut sarung.

Sinar matahari sore mengintip dari balik gorden-gorden kuning yang berusaha menghalangi jalannya untuk hadir di matamu secara terang-terangan. Namun sepertinya Tuan cukup puas dengan adanya lampu pendar yang memenuhi ruangan karena pandanganmu terlalu fokus dengan keajaiban kimia yang sulit ku mengerti dengan ilmu humaniora yang ku konsumsi.

Andai saja aku dapat membantu, walau hanya untuk membersihkan gelas-gelas tergeletak itu. Tetapi aku hanya dapat memandangmu dari jauh, dengan rasa cinta dari media berbeda, tanpa mampu mengucap halo.

Pengecut sekali aku ini…

“Mbak, makan! Sudah malam ini. Makanannya ingin dihangatkan untuk esok hari biar tidak basi!” Suara teriakan itu mengagetkanku, membuat telepon genggam yang sembari tadi ku pegang terlempar ke tempat tidur dengan sengaja.

Aku menggerutu. “Ya, sebentar, ibu! Aku sedang membereskan kamar!” Balasku tak kalah kerasnya, tetapi hanya bunyi pertemuan besi yang menyahutku kembali. Ah sudahlah, aku tak terlalu lapar.

Tanganku langsung meraih telepon genggam yang tergeletak kemudian membukanya sekali lagi untuk hari ini, memancarkan foto Tuan yang tenggelam dalam eksperimen. Selalu saja ada senyum tipis yang terselip ketika melihatmu menggunakan jas putih itu.

Aku mengunci telepon genggamku kembali dan menaruhnya di atas meja. Masih ada hari esok di mana aku bisa menikmati kehadiranmu di laboratorium itu.

Dan renjana nan mengusik ‘tuk nanti.

 

Untuk Tuan yang akan perjuangkan sang merpati.

16.03.2015
Maria Utari.

Advokasi

Posted: February 27, 2015 in Aria

Selamat hari dan juga selamat malam,

semoga pada hari dan malam ini serta hari dan malam setelah ini kalian semua selamat.

Sebenarnya entri ini adalah semacam pengakuan, yang bisa dianggap pernyataan. Penting? Tidak sepenting makan. Penting? Lebih penting dari mencungkil kotoran gigi.


Manusia cenderung memperhatikan dan menyukai yang berbeda dari yang lain, boleh itu penampilan, selera, bahkan pola pikir maupun ideologi. Hanya saja, berlawanan dengan pernyataan barusan, manusia juga cenderung menyukai hal-hal yang sama dan repetitif, karena walau tidak bisa disangkal bahwa kegembiraan didapat dari yang tiba-tiba, jarang, dan luar biasa, tapi kebahagiaan didapat dari yang dapat diprediksi, selalu terjadi, dan sangat amat biasa. Contoh yang akan membuat Anda lebih mengerti mungkin ini:

Bangun pagi, mandi pagi, sarapan, berangkat kerja, sampai kantor, bekerja sesuai jadwal dan tuntutan, digaji sesuai kontrak, pulang sesuai panggilan. Hari yang biasa.

Begitu tentram, tanpa marabahaya yang mengikuti. Namun, untuk yang – andaikan – seperti ini:

Bangun pagi, sarapan, mandi pagi, berangkat kerja yang terkena macet, sampai kantor ternyata tanpa dimarahi oleh sang Kepala, mendapat kerja tambahan dadakan, tapi sebagai gantinya mendapat gaji yang membludak dan baru bisa pulang larut malam setelah berbagai cerita yang terjadi. Kapan lagi telat dan tidak dimarahi, ditambah lagi mendapat gaji tambahan?

Penuh dengan kejadian tidak normal, menegangkan, dan hal-hal satu kali lainnya. Mana menurutmu yang lebih disukai oleh sang Subyek? Kalau aku sendiri yang membuat analogi ini mengharapkan bahwa sang Subyek lebih menyukai keadaan yang kedua, dari sisi gaji, temperamen sang Kepala yang sedang tidak terlalu temperamental, dan yang paling penting adalah banyaknya cerita yang terjadi.

Tapi, sekarang coba bayangkan kalau kedua keadaan itu ditukar. Keadaan biasa sang Subyek adalah keadaan kedua dengan agenda hari:

Bangun pagi, sarapan, mandi pagi, berangkat kerja yang terkena macet, sampai kantor tanpa dimarahi oleh sang Kepala, mendapat kerja tambahan dadakan, tapi sebagai gantinya mendapat gaji yang membludak dan baru bisa pulang larut malam. Hari yang biasa.

Namun suatu hari, dangan perasaan baik, setelah dia bangun pagi, sang Subyek mendapat perasaan untuk terlebih dahulu mandi daripada sarapan. Dan setelah dia berangkat dari rumahnya menuju kantor, jalanan tidak macet seperti biasanya, sampai kantor dengan sang Kepala bahkan belum sampai, tidak mendapat tambahan kerja, gaji pun hanya takaran biasa tanpa tambahan dan bisa pulang sejak sore hari. Sebuah sabat, bisa dikatakan.

Kalau aku menjadi sang Subyek, aku akan gembira segembira-gembiranya. Kapan lagi bisa menghindari macet, kerja tambahan, dan ditambah pulang lebih cepat?


Itu mungkin analogi yang agak berlebihan dan agak terlalu rumit untuk menjelaskan sebuah kalimat yang bahkan tidak dapat secara resmi disebut kalimat: Yang beda yang disuka.

Itulah yang sedang terjadi. Belakangan ini Basagita mendapat serbuan anggota baru, dengan sekarang total anggota Basagita adalah 17 (tujuh belas) jiwa, bahkan ada yang bernama Jiwa. Dengan pertambahan anggota ini, Basagita jadi penuh warna dengan entri-entri yang, tak bisa disangkal, indah dan memukau. Kemampuan berbahasa anggota Basagita memang mengagumkan. Jujur, aku sangat bahagia dengan itu semua.

Hanya saja, aku menemukan satu masalah.

Sebagai rambut bayangan kelompok ini, setelah kuamati tampaknya beberapa orang salah menafsirkan esensi dari Basagita.

Dan beberapa orang tampaknya mengira bahwa Basagita adalah kandang pecinta dan pembuat karya sastra.

Bukan.

Kutegaskan sekali lagi, sama sekali BUKAN.

Basagita bukanlah kandang pecinta dan pembuat karya sastra, Basagita adalah sebuah wadah bagi para pemuda-pemudi bangsa untuk mempermasalahkan dan mencari pemecahan masalah dari berbagai masalah yang ada di Dunia. Jadi, maaf kepada kalian yang mengira kami pecinta dan pencipta karya sastra, karena kami bukan. Kami hanyalah pemikir, kami hanyalah penyalur, kami hanyalah penyata. Dan dalam menjadi tiga makhluk itu, kebetulan saja cara penyampaian kami berbeda-beda. Ada yang menyampaikannya melalui puisi, renungan, bahasa Indonesia abad ke-20, dan banyak lainnya. Untukku pribadi, sebenarnya aku bukan orang yang menyukai sastra. Aku bahkan sebenarnya tidak bisa menulis dengan baik dan benar. Tulisanku juga tidak tampak estetis dan menggugah hati, bahasa yang kugunakan adalah bahasa yang sangat amat sederhana tanpa ada maksud keindahan. Dengan semua ini, ketika tempo hari ada yang menanyakan tentang Basagita dan menyebutkan bahwa Basagita adalah sekelompok pemuda-pemudi sastrawan dan sastrawati, aku sedih mendengarnya.

Lalu salah satu dari kami maju unjuk gigi,

AlimutsuguA.

Dia membawakan entri yang ringan dengan bahasa ringan dan reaksi pertamaku ketika membacanya adalah, mengesankan. Di antara semua tulisan dengan bahasa berat dan makna tersirat yang sudah menjadi sangat biasa karena beberapa entri sebelum maupun sesudah entri AlimutsuguA ini muncul, muncullah entri AlimutsuguA ini menghancurkan monotoni entri-entri sastrais di antaranya, dan membuat seakan entri ini jauh, jauh lebih bagus dibandingkan dengan yang lain.

(Ya, analogi titik jenuh di atas adalah untuk bagian ini semata)

Lalu kemunculan salah seorang anggota senior kembali,

Animus.

Isi? Cukup berat. Bahasa? Sangat ringan. Meskipun tidak tampak seagung entri AlimutsuguA, esensi entri ini yang surreal berpengaruh berat kepada entri selanjutnya.

Kemunculan sang originator.

Sang U.

Bahasa? Cukup berat. Isi? Ringankah? Beratkah? Kata yang tepat mungkin adalah relatif. Sudah pasti sebenarnya, semua adalah relatif. Tapi selagi aku bisa memberi perbedaan yang cukup jauh antara dua pilihan, sebisa mungkin tidak akan kujawab relatif. Terlepas dari itu, Yang kusuka adalah pengorelasian masalah kecil miliknya dengan masalah umat manusia. Pesan subliminal yang konkret.

Bukan bermaksud menilai masing-masing entri, karena parameternya juga tidak jelas, tetapi dengan kemunculan tiga entri ini membuatku merasa sudah sebaiknya membuat ini agar tidak ada salah penafsiran dalam Basagita.

Dan, aku mohon untuk semua anggota yang mebuat miniatur karya sastra di sini, teruslah melanjutkannya karena sebenarnya kita memang butuh sesuatu yang hanya indah.

Karena salah penafsiran adalah sesalah-salahnya sebuah salah, Kawan.

Jangan sampai kita salat sambil membawa tikus dan pisau.

Sebelumnya Saya Minta Maaf.

Posted: February 26, 2015 in U

Kamu tahu kan, bahwa manusia jenisnya berbeda-beda? Kau tidak bisa meminta orang menjadi seperti yang kamu minta, lupakan lah lagu Chrisye, jangan sampai kau termakan oleh lantunan lagunya. Meskipun lagu itu tetap dinyanyikan saat berlantun di radio kesayangan. Tapi lagi-lagi, aku tidak bisa munafik, kadang aku sendiri kesal jika menemukan perbedaan yang tidak aku sukai.

Sebenarnya, tujuan ku menulis disini hanya untuk mencurahkan hati (hehe). Karena, aku rasa jika aku bercurah kepada orang-orang terdekat, mereka malah tersinggung bukannya memberi saran. Pada saat-saat seperti ini, aku menemukan banyak hal yang ganjil dalam lingkungan yang aku hidupi sekarang. Aneh sekali, bukannya fokus dengan apa yang tebentang di masa depan, belakangan ini mereka malah seperti sibuk menunjukan sikap aslinya. Atau, memang sedang mencari sensasi? Ya, aku juga sebenarnya tidak tahu.

Tapi, aku hanya risih. Mereka terus saja bersikap layaknya anak kecil padahal mereka dipercayai sudah cukup dewasa dalam menyikapi hal-hal yang terjadi pada ‘saat-saat’ seperti ini. Sampai-sampai orang yang paling aku percayai saja, makin hari makin aneh kelakuannya, apa itu salah ku? aku juga sedang mencari jawabannya.
Mereka kerap bermain wajah dan terus menyebarkan cerita yang sebenarnya buat ku meringis dan berkata dalam hati,
“Ah.. untuk apa sih dibicarakan?”
Aku sudah tahu kok, memang pada dasarnya semua manusia emosional, bermuka dua, munafik. Dan mereka sepertinya tidak perlu susah-susah memberi tahu aku tentang kebenaran yang malah terdengar seperti fitnah ditelinga ku ini, ya kan? Karena aku sudah lelah mendengar kebohongan-kebohongan, tapi kenapa sekarang malah mereka berlomba-lomba menebarkan aib-aib atau kebenaran yang sengaja diperburuk? Apakah mungkin mereka sudah kehabisan cara untuk berbohong, ya?

Sejujurnya, aku ingin saja berkata di hadapan mereka semua bahwa bisakah mereka berhenti bersikap seperti itu? Namun, apalah aku ini (hahahaha) tidak lebih dari peran pendukung atau bahkan penonton dari drama-drama mereka yang terus bersambung.
Dan lagipula, setelah mendengar lagu Chrisye yang tadi, bukannya aku merasa iba, aku malah merasa lagu itu terdengar lucu. Siapa di dunia ini yang rela menjadi “seperti yang kau minta” (atau hanya aku saja?)
Entah, kasarnya seperti ; “gue bisa jadi apapun yang lo mau asalkan lo (isi sendiri)”
Semuanya tersirat. Namanya juga manusia.

Apalagi, yang paling lucu saat aku mendengar salah satu mereka berkata

“Gue capek ngertiin mulu, tapi gak pernah di mengertiin balik”

Sekarang, aku mau ngomong, kenapa beberapa dari kita kerap kesal belajar bidang yang tidak kita sukai sama sekali?
Padahal kita udah usaha untuk mengerti.

tapi tetap gagal

menurut aku sendiri, cuma ada dua kemungkinan ; “gue ga ada bakat, gue gak ikhlas.”

dan karena kamu gagal, pelajaran itu terasa sia-sia, kan? Mengapa gagal? Lihat lagi jawabannya sendiri

Lantas, jika kamu sendiri tidak ikhlas dalam “mengerti” orang tersebut, untuk apa berpura-pura mengerti?
Ingin jadi peran protagonis?

Ah, maaf ya saya memang tidak pandai dalam membuat analogi.

You.
2015, Januari

Insomnia

Posted: February 26, 2015 in Animus

Pukul tiga dini hari. Aku terbangun dari tidurku, seperti biasa, terjadi di jam yang sama, setiap harinya. Sudah tanggung, pukul setengah lima aku harus bergegas mandi untuk sekolah. Itu tandanya aku masih punya satu setengah jam untuk tidur kembali. Tetapi pikiran ini terus terjaga, terus membanjiri kamarku yang sempit dengan riuh memori bercampur imajinasi.

Untuk membunuh keriuhan aku membuka telepon genggamku. Cahayanya yang terang menusuk mataku karena belum siap untuk beradaptasi. Kelopak mata dengan refleks menutup untuk melindungi mereka. Kujauhkan telepon genggamku untuk sementara dan kembali kubuka mataku. Ajaibnya, kini cahaya-cahaya lain mulai bermunculan; selain cahaya yang berasal dari layar telepon genggamku. Mereka muncul satu-persatu seperti kunang-kunang.

Kamar yang gelap berubah menjadi terang seketika. Kasur yang empuk berubah menjadi karpet rumput yang menggelitik permukaan kulit. Ruangan yang dingin menaikkan suhunya. Angin sejuk dan kelopak bunga yang terbang mengikutinya kini sudah memenuhi kamarku. Dari kejauhan terdapat seorang anak yang sedang bermain kejar-kejaran dengan seekor tupai. Ia tampak begitu asyik sendiri hingga kakinya kelelahan dan lumpuh.

Pohon apel yang dari tadi melindunginya dari terik matahari kemudian mulai menurunkan satu-persatu dahannya untuk mengangkat tubuh anak tersebut yang kakinya tak dapat berfungsi lagi. Ia berikan buahnya kepadanya dan menyembuhkan kakinya kembali ke bentuk semula. Ketika itu juga anak tersebut melanjutkan kejar-kejaran dengan tupai dan mengulang kesalahan yang sama terus-menerus hingga pohon apel memberi buahnya kembali kepadanya. Bunga bertanya mengapa pohon apel rela memberi buahnya kepada seorang anak yang bahkan tak sadar apa yang ia lakukan, yang terus membuat dirinya dan orang lain merugi. Pohon apel juga tak mengerti mengapa ia peduli kepada anak itu. Lama-kelamaan ia ikut kelelahan seperti anak tersebut dan mulai kehabisan buah.

Tidak seperti saudaranya, pohon apel itu mengasuh anak manusia.

Ketika pohon apel mulai kehabisan buah, ia tak bisa memiliki anak pohon baru. Ketika anak tersebut sadar tidak ada lagi apel untuknya, waktu datang untuk menyengsarakan mereka hingga tiba musim berikutnya ketika apel kembali berbuah dan dapat mengobati anak itu lagi. Ketika pohon apel mulai melihat sang anak kembali bermain kejar-kejaran, satu-persatu daunnya menggugurkan diri sebagai bentuk protes atas dirinya yang begitu mementingkan orang lain dan lupa akan kondisi diri sendiri. Ketika dedaunan gugur, tidak hanya waktu, namun terik matahari datang menyengsarakan anak tersebut dan membuat pohon apel tak lagi berguna dan mati.

Tanganku meraba-raba permukaan tanah, mencari telepon genggamku. Aku sangat lelah. Pukul tiga lewat tigapuluh menit namun tembok masih bernyanyi saja yang terus mengganggu ketenangan. Kuputar lagu dari telepon genggam untuk meredam suara tembok dan membantuku tidur. Rumput berganti kursi empuk dan pohon apel berganti menjadi panggung pertunjukkan. Terdapat sekumpulan pemain musik yang saling bekerjasama menciptakan harmoni. Seorang penyanyi bermandikan cahaya lampu muncul dari bawah panggung dan mulai menyuarakan nada-nada kelam namun indah.

Lagu terus bermain menghanyutkan suasana dengan baik, hingga terdengar suara sumbang dari kelompok biola. Nampaknya salah satu pemain biola salah dalam membunyikan not. Namun tidak hanya sekali namun berkali-kali ia membuat kesalahan yang sama hingga semuanya berhenti dan mulai memarahinya yang tidak berlaku sesuai partitur yang ada. Pemain biola itu terus asyik bermain lagunya sendiri hingga tuli dibuatnya. Semakin banyak yang memarahinya semakin kencang ia bermain. Beberapa penonton nampak suka dengan lagunya, namun tidak dengan teman-temannya. Pemain biola tersebut ditarik oleh tirai panggung dan hilang dibaliknya. Semua pemain musik kembali melantunkan lagu sedih yang indah.

Tidak seperti saudaranya, pemain biola tersebut memainkan nada mayor.

Hidup memiliki aturan yang terkadang dapat membunuh inovasi-inovasi baru agar manusia dapat bergerak maju. Namun penyimpangan tetap penyimpangan dan butuh waktu yang sangat lama untuk membangun harmoni yang baru.

Kamarku kembali gelap tanpa sorot cahaya panggung. Tembok semakin gencar berargumen dan berpidato yang macam-macam. Lagu kumatikan dan kuputuskan untuk tenggelam saja bersama tembok. Pukul empat dini hari, waktu tidur tersisa 30 menit sebelum alarm berbunyi. Kupejamkan mata serapat mungkin dan berharap aku dapat beristirahat dalam waktu yang singkat tersebut.

Nampaknya aku berhasil tidur dan kini aku sedang bermimpi. Aku sekarang berada di tempat penyembelihan binatang. Duduk mendengarkan jeritan domba yang disembelih meski hanya tembok yang seolah terus berceloteh. Sedangkan Mata menunggu di rumah, meneriaki Otak yang tak becus menyembelih domba yang justru menyakitinya dan membuatnya menangis. Mimpi buruk.

Domba itu dikurung dalam sebuah kandang selama berbulan-bulan dan terus diberi makan oleh Otak dan mata hingga ia gemuk dan muak. Seringkali domba kelelahan karena tak henti-hentinya diberi makan, Kandang pun jadi tak cukup disinggahi domba.

Tidak seperti saudaranya, domba menjadi hewan ternak yang tak lazim dimakan dagingnya.

Definisi jiwa memang tak jelas, namun aku yakin jiwa benar-benar ada. Ketika mata dan otak tak sejalan dengan jiwa, maka kala itu ia merintih.

Tubuh ini pun tak kuasa melihat tingkah otak dan mata yang terus menyakiti jiwa. Namun, apa yang bisa dilakukan tubuh? Ia hanya toples kosong yang disinggahi jiwa juga otak dan mata. Ia benda mati. Tanpa otak ia tak dapat membuka tutupnya sendiri.

Alarm berbunyi. Waktuku habis. Aku bukannya bermimpi namun aku baru saja nyaris mati karena memilih tenggelam dalam kata-kata tembok. Aku beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi dan meninggalkan tembok-tembok tersebut mengoceh sendiri, memilih lepas darinya.

Selamat pagi, realita.

Pinokio

Posted: February 25, 2015 in Maria Utari

Katanya
Wajah Tuan keras namun halus
Seperti kayu yang dipelitur
Kiranya apa semua berpikir begitu?

Ya, Pinokio
Aku setuju dengan sebutan itu
Bukan karena tekstur paras yang sempurna
Tapi suatu kekecewaan terbekas samar

Kepolosan butakan jiwa
Egoisme sebabkan mara
Ah, apa mungkin aku saja yang terlalu perasa?
Namun siapa tak mau cicip afeksi fana?

Jujur, aku bukan Geppeto yang akan korbankan
Atau Mangiafuoco sang pemaaf
Ah, tapi apa dikata
Aku ialah pembual realita

Teringat kata Sang Rama
Semua miliki dua sisi berbeda
Memang begitu nyata adanya
Sang boneka kayu kan jadi ibnu berkat cita

25.02.2015
Maria Utari

Apa

Posted: February 24, 2015 in Jiwa

Persetan dan bahagia
Menghina sambil mencinta
Sambil dirasa wajah yang biasa
Berusaha biasa, yah namanya hati
Bisa apa

Persetan
Kesal, kesal, kesal
Tak tau kenapa kesal
Tipu tipu kah
Hanya agara badan ini mengatakan benar

Pembohong
Berharap waktu dapat membantu
Kalau lama maka artinya tak peduli
Kalau cepat memang jadi peduli?

Akhirnya diam
Disini diam, mengharap mampu tak acuh
Disana diam, disini tak mampu baca hati
Diam tak tentu berakhir