Tentang Kata

Posted: October 14, 2014 in Puan

Maafkan bisuku jika tidak banyak ikut berbagai hal yang menjadi sarapan malam di basagita. Hanya saja, aku ini tidak pernah begitu baik dengan orang lain karena temanku adalah canggung. Baiklah, jadi namaku Puan dan menjadi bagian dari basagita ini adalah wadah yang baik untuk pikiranku yang selalu menggubrisku tak kenal waktu.

Dan yang sedang kupikirkan sekarang adalah kata. Kata dalam suatu tulisan bak jaringan dalam anatomi makhluk hidup. Selnya ialah huruf. Kalimat adalah organ, paragraf adalah sistem dan keutuhan tulisan itu ialah individu. Kalau memang fungsi tulisan adalah sebagai individu itu artinya pula aku sudah memiliki puluhan anak, bahkan mungkin ribuan dari mulai tulisan pertamaku saat bisa belajar menulis sampai esai-esai sejarah yang menjadi tugas di sekolah sampai tulisan ini sendiri. Tulisan menurutku ialah sebuah media yang paling indah dari segala macam media lain yang ada. Mengapa kau tanya? Karena mereka tak berevolusi, tulisan tidak membutuhkan green screen untuk menjadi sesuatu yang menggelegar serta tak butuh speaker stereo agar terdengar lebih bagus. Menulis juga tak butuh warna, karena warna itulah yang diciptakan lewat tulisanmu itu. Dari zaman Marah Rusli sampai sekarang menulis hanya butuh dua, kertas dan pensil. Sungguh, dengan dua hal itu dunia bisa kita buat menjadi indah dengan tulisan.

Takkah kau baca karya-karya terdahulu yang mendeskripsikan langit temaram saja bisa sampai satu paragraf? Atau menjelaskan tentang betapa sunyinya malam hingga di atas ranjangmu bisa terdengar suara jangkrik yang sedang asik? Sebegitu indahnya kata bagiku.

Walau begitu kata tak bisa pula menyampaikan keutuhan sebuah pikiran atau ide, karena yang diinginkan adalah keindahan dari sebuah siratan yang memiliki tafsir masing-masing. Baiklah, kuberikan contoh padamu.

“Manisku jauh di pulau,

kalau ku mati, dia mati iseng sendiri.” (Anwar, Chairil : 1946)

Satu, kalau boleh kutafsirkan, penggalan itu menceritakan kekasih yang terpisah laut dan Aku terancam mati. Dua, bisa jadi penggalan itu menceritakan tentang Aku yang ingin mati saja karena iseng mereka sudah tak sejalan lagi. Tiga, Aku pergi sengaja mau mati karena manisnya sudah tidak jelas main iseng. Empat, isilah, tempat ini untukmu, …………………………………………………………………………………………………

Belakangan ini aku sedang sering baca-baca sajak lagi karena aku sedang cinta dengan siratan dan keindahannya yang dibiarkan begitu saja. Tapi keindahan itu tak hanya dalam sajak sungguh. Dalam cerita keseharian pun pemilihan kata menjadi salah satu pelukis senyumku. Baiklah, kuberikan contoh bandingkan.

(1) Aku sedang patah hati karena dia tak lagi suka.

dan.

(2) Aku sedang merasakan remuknya rasa yang tak terdeskripsikan. Ini semua karena dirinya yang tak lagi menaruh hati padaku. Pantas saja hatiku kosong, ia mengambil simpanan hatinya di diriku tanpa ketuk pintu. Jadilah dalam diriku angin mondar-mandir mengisi kekosongan itu, dingin.

Tidakkah yang kedua lebih indah? Aku objektif sungguh, karena dua-duanya aku yang membuatnya. Kalau kau membaca kalimat pertama di suatu buku, pasti yang terbangun adalah kau jadi teringat akan momen patah hatimu, tapi belum tentu karena dianya yang tak lagi suka. Di kalimat kedua, pasti yang terbangun adalah kau memposisikanmu sebagai sesuatu yang berisi dan tiba-tiba isimu diambil tanpa pemberitahuan. Lalu kau kosong tak punya isi padahal segala dari dirimu adalah isi, bukanlah rupa fisikmu. Bayangkanlah jika kau tak berperasaan lagi dan tersesat karena kekosongan itu.

Tulisan itu indah bukan? Mereka sederhana hanya pena dan kertas. Semaju-majunya tulisan sekarang bisa diolah di Microsoft Word. Diksi itu indah. Rima itu indah.

Mungkin tulisanku ini sekadar pikiran aneh tentang kenapa aku begitu cinta dengan tulisan. Aku sudah terbiasa dicap memiliki pikiran yang aneh karena entah aku terlalu berpikir ke depan atau terbelakang (baca: lemot). Ngomong-ngomong aku memang ingin jadi penulis buku atau setidaknya cerpenis.

Oh ya, satu hal lagi yang aku suka dari buku. Wangi kertas dari buku lama yang sudah menguning kecoklatan selalu menggugahku.

Salam,

Puan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s