Kisah Seorang Pria.

Posted: February 21, 2015 in Canting

1 September 1994.
20 tahun yang lalu, tepatnya.

                            ***

Pagi selalu kau hiasi dengan uapan mu yang khas. Bayangan rutinitas monoton menghantui lagi. Tapi kau tenang, lantas bangun dan beranjak membasuh diri. Tak jarang kau habiskan waktu mu untuk berfikir. Sesaat setelah bangun tidur mu, disela tawa bahkan sedihmu.

Jalan lagi. Bus lagi. Asap lagi. Itu itu saja. Hanya itu saja pemandangan yang dapat mata mu tangkap.  Tak ada yang spesial ketika orang melihatmu. Sepatah sapa sederhana dari kerabat, mungkin. Lebih sederhana lagi, kau balas dengan teriakan “Oi!”. 

Lalu semua kembali seperti biasa.
Dunia yang bising, juga sunyi.
Yang ramai, juga sepi. 

Kau itu pria kesepian. Tapi alam selalu bisa menjawab segala tanyamu. Dan kau selalu kembali padanya. Untuk menuntut keramaian. Menuntut kedamaian. 

Musik kencang bermain terus terus an di kepalamu. Entah apa maksudnya. Apa artinya.
Kau hanya dengan seksama mendengarkan. Menenggelamkan dirimu di dalamnya.
Tak hanya itu, lantunan nada damai dari musisi kondang yang tak lapuk termakan usia itu juga kian menghiasi pendengeran mu. Lagu lagu nya yang kontroversial, bahkan terkadang menyayat para pejabat itu terekam jelas dalam ingatanmu. Terekam sangat jelas, sampai kau hafal detail kecilnya. 

Kau terlihat sangat menikmati kesendirianmu, ya?
Aku tahu.
Aku pun begitu.

Kemana saja angin membawamu, takkan jadi masalah. Karena kau menikmatinya. Teramat menikmati.
Tapi kau juga benci.
Benci sendiri.

Sampai disini, aku masih belum berhenti tersenyum.

Kagum. Kagum karena kau kuat. Bukan kuat otot. Tapi kuat hati.

Pria, menangislah sekali sekali. Tak akan jadi masalah. Ayo, teteskan air matamu. Supaya kau lega. 

Aku selalu tertarik untuk memperhatikan mu. Gerak gerikmu, pembicaraanmu, semuanya begitu menarik. Kalau ini mimpi, aku memilih untuk tidur saja. Dan menikmati mu.

Malam menyapa dan kau sudah duduk tenang. Terkadang kau terpaksa menghirup asap rokok yang bukan milikmu. Tertawa bahkan terdiam mendengar cerita teman temanmu.

Terkadang kau sudah dirumah. Duduk di kursi sambil memandang berita politik yang itu itu saja. Atau dengan penuh rasa kau sapa kucing peliharaan mu itu, si mbul.

Lalu kau terkapar dikasur mu lagi, pulas karena lelah, atau terjaga karena gundah. 
Pria, kau pasti punya mimpi.
Wujudkan lah.
Kau tau kan kau tak sendiri lagi?
Ada aku.
Aku bukan hanya bersedia menyemangatimu sekarang.
Tapi 24 jam penuh memegang pom pom ku dengan riang. Untukmu. 

Pria, buktikan keberadaan mu bukan sekedar debu.
Sepuluh, dua puluh, bahkan lima puluh tahun lagi, aku masih akan tetap disini. Memperhatikan mu yang sedang menikmati kenyataan.
Mimpi mimpi mu yang telah terwujud menjadi kenyataan.

Lupakan takdir takdir bodoh mu itu, Pria. Kau bukan penunggu takdir!
Kau penjemput masa depan.
Jemput masa depan mu, yang akan mengganti kan peluh dan setiap tetes keringat yang kau usap hari ini.

Aku menulis tentangmu bukan karena tak ada kerjaan. Kerjaan ku menumpuk. Kau tahu itu. 

Aku menulis tentangmu karena sosokmu itu terlalu berharga jika hanya kusimpan dalam memori. Belum tentu aku dapat mengingatmu sampai tua nanti.

Tapi kalau aku lupa padamu, tolong ingatkan aku lagi ya? Karena jika kau tak melakukan nya, aku akan kehilangan ingatan terindah yang pernah ada dalam otak yang mungkin kapasitasnya tidak mencapai 7% ini. 

Selamat ulang tahun, Pria.
Aku mencintaimu.

                                                  Canting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s