Advokasi

Posted: February 27, 2015 in Aria

Selamat hari dan juga selamat malam,

semoga pada hari dan malam ini serta hari dan malam setelah ini kalian semua selamat.

Sebenarnya entri ini adalah semacam pengakuan, yang bisa dianggap pernyataan. Penting? Tidak sepenting makan. Penting? Lebih penting dari mencungkil kotoran gigi.


Manusia cenderung memperhatikan dan menyukai yang berbeda dari yang lain, boleh itu penampilan, selera, bahkan pola pikir maupun ideologi. Hanya saja, berlawanan dengan pernyataan barusan, manusia juga cenderung menyukai hal-hal yang sama dan repetitif, karena walau tidak bisa disangkal bahwa kegembiraan didapat dari yang tiba-tiba, jarang, dan luar biasa, tapi kebahagiaan didapat dari yang dapat diprediksi, selalu terjadi, dan sangat amat biasa. Contoh yang akan membuat Anda lebih mengerti mungkin ini:

Bangun pagi, mandi pagi, sarapan, berangkat kerja, sampai kantor, bekerja sesuai jadwal dan tuntutan, digaji sesuai kontrak, pulang sesuai panggilan. Hari yang biasa.

Begitu tentram, tanpa marabahaya yang mengikuti. Namun, untuk yang – andaikan – seperti ini:

Bangun pagi, sarapan, mandi pagi, berangkat kerja yang terkena macet, sampai kantor ternyata tanpa dimarahi oleh sang Kepala, mendapat kerja tambahan dadakan, tapi sebagai gantinya mendapat gaji yang membludak dan baru bisa pulang larut malam setelah berbagai cerita yang terjadi. Kapan lagi telat dan tidak dimarahi, ditambah lagi mendapat gaji tambahan?

Penuh dengan kejadian tidak normal, menegangkan, dan hal-hal satu kali lainnya. Mana menurutmu yang lebih disukai oleh sang Subyek? Kalau aku sendiri yang membuat analogi ini mengharapkan bahwa sang Subyek lebih menyukai keadaan yang kedua, dari sisi gaji, temperamen sang Kepala yang sedang tidak terlalu temperamental, dan yang paling penting adalah banyaknya cerita yang terjadi.

Tapi, sekarang coba bayangkan kalau kedua keadaan itu ditukar. Keadaan biasa sang Subyek adalah keadaan kedua dengan agenda hari:

Bangun pagi, sarapan, mandi pagi, berangkat kerja yang terkena macet, sampai kantor tanpa dimarahi oleh sang Kepala, mendapat kerja tambahan dadakan, tapi sebagai gantinya mendapat gaji yang membludak dan baru bisa pulang larut malam. Hari yang biasa.

Namun suatu hari, dangan perasaan baik, setelah dia bangun pagi, sang Subyek mendapat perasaan untuk terlebih dahulu mandi daripada sarapan. Dan setelah dia berangkat dari rumahnya menuju kantor, jalanan tidak macet seperti biasanya, sampai kantor dengan sang Kepala bahkan belum sampai, tidak mendapat tambahan kerja, gaji pun hanya takaran biasa tanpa tambahan dan bisa pulang sejak sore hari. Sebuah sabat, bisa dikatakan.

Kalau aku menjadi sang Subyek, aku akan gembira segembira-gembiranya. Kapan lagi bisa menghindari macet, kerja tambahan, dan ditambah pulang lebih cepat?


Itu mungkin analogi yang agak berlebihan dan agak terlalu rumit untuk menjelaskan sebuah kalimat yang bahkan tidak dapat secara resmi disebut kalimat: Yang beda yang disuka.

Itulah yang sedang terjadi. Belakangan ini Basagita mendapat serbuan anggota baru, dengan sekarang total anggota Basagita adalah 17 (tujuh belas) jiwa, bahkan ada yang bernama Jiwa. Dengan pertambahan anggota ini, Basagita jadi penuh warna dengan entri-entri yang, tak bisa disangkal, indah dan memukau. Kemampuan berbahasa anggota Basagita memang mengagumkan. Jujur, aku sangat bahagia dengan itu semua.

Hanya saja, aku menemukan satu masalah.

Sebagai rambut bayangan kelompok ini, setelah kuamati tampaknya beberapa orang salah menafsirkan esensi dari Basagita.

Dan beberapa orang tampaknya mengira bahwa Basagita adalah kandang pecinta dan pembuat karya sastra.

Bukan.

Kutegaskan sekali lagi, sama sekali BUKAN.

Basagita bukanlah kandang pecinta dan pembuat karya sastra, Basagita adalah sebuah wadah bagi para pemuda-pemudi bangsa untuk mempermasalahkan dan mencari pemecahan masalah dari berbagai masalah yang ada di Dunia. Jadi, maaf kepada kalian yang mengira kami pecinta dan pencipta karya sastra, karena kami bukan. Kami hanyalah pemikir, kami hanyalah penyalur, kami hanyalah penyata. Dan dalam menjadi tiga makhluk itu, kebetulan saja cara penyampaian kami berbeda-beda. Ada yang menyampaikannya melalui puisi, renungan, bahasa Indonesia abad ke-20, dan banyak lainnya. Untukku pribadi, sebenarnya aku bukan orang yang menyukai sastra. Aku bahkan sebenarnya tidak bisa menulis dengan baik dan benar. Tulisanku juga tidak tampak estetis dan menggugah hati, bahasa yang kugunakan adalah bahasa yang sangat amat sederhana tanpa ada maksud keindahan. Dengan semua ini, ketika tempo hari ada yang menanyakan tentang Basagita dan menyebutkan bahwa Basagita adalah sekelompok pemuda-pemudi sastrawan dan sastrawati, aku sedih mendengarnya.

Lalu salah satu dari kami maju unjuk gigi,

AlimutsuguA.

Dia membawakan entri yang ringan dengan bahasa ringan dan reaksi pertamaku ketika membacanya adalah, mengesankan. Di antara semua tulisan dengan bahasa berat dan makna tersirat yang sudah menjadi sangat biasa karena beberapa entri sebelum maupun sesudah entri AlimutsuguA ini muncul, muncullah entri AlimutsuguA ini menghancurkan monotoni entri-entri sastrais di antaranya, dan membuat seakan entri ini jauh, jauh lebih bagus dibandingkan dengan yang lain.

(Ya, analogi titik jenuh di atas adalah untuk bagian ini semata)

Lalu kemunculan salah seorang anggota senior kembali,

Animus.

Isi? Cukup berat. Bahasa? Sangat ringan. Meskipun tidak tampak seagung entri AlimutsuguA, esensi entri ini yang surreal berpengaruh berat kepada entri selanjutnya.

Kemunculan sang originator.

Sang U.

Bahasa? Cukup berat. Isi? Ringankah? Beratkah? Kata yang tepat mungkin adalah relatif. Sudah pasti sebenarnya, semua adalah relatif. Tapi selagi aku bisa memberi perbedaan yang cukup jauh antara dua pilihan, sebisa mungkin tidak akan kujawab relatif. Terlepas dari itu, Yang kusuka adalah pengorelasian masalah kecil miliknya dengan masalah umat manusia. Pesan subliminal yang konkret.

Bukan bermaksud menilai masing-masing entri, karena parameternya juga tidak jelas, tetapi dengan kemunculan tiga entri ini membuatku merasa sudah sebaiknya membuat ini agar tidak ada salah penafsiran dalam Basagita.

Dan, aku mohon untuk semua anggota yang mebuat miniatur karya sastra di sini, teruslah melanjutkannya karena sebenarnya kita memang butuh sesuatu yang hanya indah.

Karena salah penafsiran adalah sesalah-salahnya sebuah salah, Kawan.

Jangan sampai kita salat sambil membawa tikus dan pisau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s