Intip

Posted: March 17, 2015 in Maria Utari

Aku melihatmu lagi hari ini.

Dan asmara mulai mengusik.

Ah, aku tak pernah lelah untuk melepaskan mataku dari postur tubuhmu. Postur tubuh yang membungkuk sempurna menghipnotisku, membuat seketika pipiku memerah setiap kali melihatnya.

Tuan, aku tahu Tuan tak akan pernah berbalik melihatku namun aku tak ingin melepasmu untuk waktu yang cukup lama dari tatapanku walau medium menghalangi kita.

Tetapi, sepertinya Tuan terlalu sibuk dengan cairan-cairan di tangan. Mencampurkan setiap jenis senyawa yang tak pernah ku pelajari kembali sejak aku berbalik untuk mengikuti jejak August Comte. Jadi, jangan salahkan bila aku sebut apa yang Tuan genggam adalah kekeliruan, itu bukan keahlianku.

Siapa peduli, aku hanya acuh kepadamu, bukan apa buatan dari larutan berwarna biru terang itu. Acuh kepada rambut ikalmu yang terikat rapi nan mempertegas wajah tirus terbakar sinar matahari. Kedua tangan yang ramping masih memegang pipet berisi cairan yang mungkin dapat merusak tangan terbalut sarung.

Sinar matahari sore mengintip dari balik gorden-gorden kuning yang berusaha menghalangi jalannya untuk hadir di matamu secara terang-terangan. Namun sepertinya Tuan cukup puas dengan adanya lampu pendar yang memenuhi ruangan karena pandanganmu terlalu fokus dengan keajaiban kimia yang sulit ku mengerti dengan ilmu humaniora yang ku konsumsi.

Andai saja aku dapat membantu, walau hanya untuk membersihkan gelas-gelas tergeletak itu. Tetapi aku hanya dapat memandangmu dari jauh, dengan rasa cinta dari media berbeda, tanpa mampu mengucap halo.

Pengecut sekali aku ini…

“Mbak, makan! Sudah malam ini. Makanannya ingin dihangatkan untuk esok hari biar tidak basi!” Suara teriakan itu mengagetkanku, membuat telepon genggam yang sembari tadi ku pegang terlempar ke tempat tidur dengan sengaja.

Aku menggerutu. “Ya, sebentar, ibu! Aku sedang membereskan kamar!” Balasku tak kalah kerasnya, tetapi hanya bunyi pertemuan besi yang menyahutku kembali. Ah sudahlah, aku tak terlalu lapar.

Tanganku langsung meraih telepon genggam yang tergeletak kemudian membukanya sekali lagi untuk hari ini, memancarkan foto Tuan yang tenggelam dalam eksperimen. Selalu saja ada senyum tipis yang terselip ketika melihatmu menggunakan jas putih itu.

Aku mengunci telepon genggamku kembali dan menaruhnya di atas meja. Masih ada hari esok di mana aku bisa menikmati kehadiranmu di laboratorium itu.

Dan renjana nan mengusik ‘tuk nanti.

 

Untuk Tuan yang akan perjuangkan sang merpati.

16.03.2015
Maria Utari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s