Archive for the ‘Animus’ Category

Insomnia

Posted: February 26, 2015 in Animus

Pukul tiga dini hari. Aku terbangun dari tidurku, seperti biasa, terjadi di jam yang sama, setiap harinya. Sudah tanggung, pukul setengah lima aku harus bergegas mandi untuk sekolah. Itu tandanya aku masih punya satu setengah jam untuk tidur kembali. Tetapi pikiran ini terus terjaga, terus membanjiri kamarku yang sempit dengan riuh memori bercampur imajinasi.

Untuk membunuh keriuhan aku membuka telepon genggamku. Cahayanya yang terang menusuk mataku karena belum siap untuk beradaptasi. Kelopak mata dengan refleks menutup untuk melindungi mereka. Kujauhkan telepon genggamku untuk sementara dan kembali kubuka mataku. Ajaibnya, kini cahaya-cahaya lain mulai bermunculan; selain cahaya yang berasal dari layar telepon genggamku. Mereka muncul satu-persatu seperti kunang-kunang.

Kamar yang gelap berubah menjadi terang seketika. Kasur yang empuk berubah menjadi karpet rumput yang menggelitik permukaan kulit. Ruangan yang dingin menaikkan suhunya. Angin sejuk dan kelopak bunga yang terbang mengikutinya kini sudah memenuhi kamarku. Dari kejauhan terdapat seorang anak yang sedang bermain kejar-kejaran dengan seekor tupai. Ia tampak begitu asyik sendiri hingga kakinya kelelahan dan lumpuh.

Pohon apel yang dari tadi melindunginya dari terik matahari kemudian mulai menurunkan satu-persatu dahannya untuk mengangkat tubuh anak tersebut yang kakinya tak dapat berfungsi lagi. Ia berikan buahnya kepadanya dan menyembuhkan kakinya kembali ke bentuk semula. Ketika itu juga anak tersebut melanjutkan kejar-kejaran dengan tupai dan mengulang kesalahan yang sama terus-menerus hingga pohon apel memberi buahnya kembali kepadanya. Bunga bertanya mengapa pohon apel rela memberi buahnya kepada seorang anak yang bahkan tak sadar apa yang ia lakukan, yang terus membuat dirinya dan orang lain merugi. Pohon apel juga tak mengerti mengapa ia peduli kepada anak itu. Lama-kelamaan ia ikut kelelahan seperti anak tersebut dan mulai kehabisan buah.

Tidak seperti saudaranya, pohon apel itu mengasuh anak manusia.

Ketika pohon apel mulai kehabisan buah, ia tak bisa memiliki anak pohon baru. Ketika anak tersebut sadar tidak ada lagi apel untuknya, waktu datang untuk menyengsarakan mereka hingga tiba musim berikutnya ketika apel kembali berbuah dan dapat mengobati anak itu lagi. Ketika pohon apel mulai melihat sang anak kembali bermain kejar-kejaran, satu-persatu daunnya menggugurkan diri sebagai bentuk protes atas dirinya yang begitu mementingkan orang lain dan lupa akan kondisi diri sendiri. Ketika dedaunan gugur, tidak hanya waktu, namun terik matahari datang menyengsarakan anak tersebut dan membuat pohon apel tak lagi berguna dan mati.

Tanganku meraba-raba permukaan tanah, mencari telepon genggamku. Aku sangat lelah. Pukul tiga lewat tigapuluh menit namun tembok masih bernyanyi saja yang terus mengganggu ketenangan. Kuputar lagu dari telepon genggam untuk meredam suara tembok dan membantuku tidur. Rumput berganti kursi empuk dan pohon apel berganti menjadi panggung pertunjukkan. Terdapat sekumpulan pemain musik yang saling bekerjasama menciptakan harmoni. Seorang penyanyi bermandikan cahaya lampu muncul dari bawah panggung dan mulai menyuarakan nada-nada kelam namun indah.

Lagu terus bermain menghanyutkan suasana dengan baik, hingga terdengar suara sumbang dari kelompok biola. Nampaknya salah satu pemain biola salah dalam membunyikan not. Namun tidak hanya sekali namun berkali-kali ia membuat kesalahan yang sama hingga semuanya berhenti dan mulai memarahinya yang tidak berlaku sesuai partitur yang ada. Pemain biola itu terus asyik bermain lagunya sendiri hingga tuli dibuatnya. Semakin banyak yang memarahinya semakin kencang ia bermain. Beberapa penonton nampak suka dengan lagunya, namun tidak dengan teman-temannya. Pemain biola tersebut ditarik oleh tirai panggung dan hilang dibaliknya. Semua pemain musik kembali melantunkan lagu sedih yang indah.

Tidak seperti saudaranya, pemain biola tersebut memainkan nada mayor.

Hidup memiliki aturan yang terkadang dapat membunuh inovasi-inovasi baru agar manusia dapat bergerak maju. Namun penyimpangan tetap penyimpangan dan butuh waktu yang sangat lama untuk membangun harmoni yang baru.

Kamarku kembali gelap tanpa sorot cahaya panggung. Tembok semakin gencar berargumen dan berpidato yang macam-macam. Lagu kumatikan dan kuputuskan untuk tenggelam saja bersama tembok. Pukul empat dini hari, waktu tidur tersisa 30 menit sebelum alarm berbunyi. Kupejamkan mata serapat mungkin dan berharap aku dapat beristirahat dalam waktu yang singkat tersebut.

Nampaknya aku berhasil tidur dan kini aku sedang bermimpi. Aku sekarang berada di tempat penyembelihan binatang. Duduk mendengarkan jeritan domba yang disembelih meski hanya tembok yang seolah terus berceloteh. Sedangkan Mata menunggu di rumah, meneriaki Otak yang tak becus menyembelih domba yang justru menyakitinya dan membuatnya menangis. Mimpi buruk.

Domba itu dikurung dalam sebuah kandang selama berbulan-bulan dan terus diberi makan oleh Otak dan mata hingga ia gemuk dan muak. Seringkali domba kelelahan karena tak henti-hentinya diberi makan, Kandang pun jadi tak cukup disinggahi domba.

Tidak seperti saudaranya, domba menjadi hewan ternak yang tak lazim dimakan dagingnya.

Definisi jiwa memang tak jelas, namun aku yakin jiwa benar-benar ada. Ketika mata dan otak tak sejalan dengan jiwa, maka kala itu ia merintih.

Tubuh ini pun tak kuasa melihat tingkah otak dan mata yang terus menyakiti jiwa. Namun, apa yang bisa dilakukan tubuh? Ia hanya toples kosong yang disinggahi jiwa juga otak dan mata. Ia benda mati. Tanpa otak ia tak dapat membuka tutupnya sendiri.

Alarm berbunyi. Waktuku habis. Aku bukannya bermimpi namun aku baru saja nyaris mati karena memilih tenggelam dalam kata-kata tembok. Aku beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi dan meninggalkan tembok-tembok tersebut mengoceh sendiri, memilih lepas darinya.

Selamat pagi, realita.