Archive for the ‘Maria Utari’ Category

Terbit yang Tertunda

Posted: May 1, 2015 in Maria Utari

Angka yang selama ini kita kejar
Jangan mengelak, realita ceritakan segalanya
Tuntutan Penguasa atau keinginan rakyat belaka
Tak ada terdakwa
Semua jadi budaya, bukan?

Ingin teteskan air mata
Namun, semua kan sia-sia
Tak ada embun yang mampu selamatkan
Sang jenius sejati yang tak sampai lima
Yang penting nilai, bukan?

Ya, sang papa dapat cicipi si bangku kayu
Tetapi semua masih butuhkan nominal
Kertas yang kontrol insan
Namaku hanyalah simbol
Perjuanganku belum sampai akhir, bukan?

Hormat dan kasih padamu, Ki Hajar Dewantara.
Selamat Hari Pendidikan Nasional.

02.05.2015.
Maria Utari.

Intip

Posted: March 17, 2015 in Maria Utari

Aku melihatmu lagi hari ini.

Dan asmara mulai mengusik.

Ah, aku tak pernah lelah untuk melepaskan mataku dari postur tubuhmu. Postur tubuh yang membungkuk sempurna menghipnotisku, membuat seketika pipiku memerah setiap kali melihatnya.

Tuan, aku tahu Tuan tak akan pernah berbalik melihatku namun aku tak ingin melepasmu untuk waktu yang cukup lama dari tatapanku walau medium menghalangi kita.

Tetapi, sepertinya Tuan terlalu sibuk dengan cairan-cairan di tangan. Mencampurkan setiap jenis senyawa yang tak pernah ku pelajari kembali sejak aku berbalik untuk mengikuti jejak August Comte. Jadi, jangan salahkan bila aku sebut apa yang Tuan genggam adalah kekeliruan, itu bukan keahlianku.

Siapa peduli, aku hanya acuh kepadamu, bukan apa buatan dari larutan berwarna biru terang itu. Acuh kepada rambut ikalmu yang terikat rapi nan mempertegas wajah tirus terbakar sinar matahari. Kedua tangan yang ramping masih memegang pipet berisi cairan yang mungkin dapat merusak tangan terbalut sarung.

Sinar matahari sore mengintip dari balik gorden-gorden kuning yang berusaha menghalangi jalannya untuk hadir di matamu secara terang-terangan. Namun sepertinya Tuan cukup puas dengan adanya lampu pendar yang memenuhi ruangan karena pandanganmu terlalu fokus dengan keajaiban kimia yang sulit ku mengerti dengan ilmu humaniora yang ku konsumsi.

Andai saja aku dapat membantu, walau hanya untuk membersihkan gelas-gelas tergeletak itu. Tetapi aku hanya dapat memandangmu dari jauh, dengan rasa cinta dari media berbeda, tanpa mampu mengucap halo.

Pengecut sekali aku ini…

“Mbak, makan! Sudah malam ini. Makanannya ingin dihangatkan untuk esok hari biar tidak basi!” Suara teriakan itu mengagetkanku, membuat telepon genggam yang sembari tadi ku pegang terlempar ke tempat tidur dengan sengaja.

Aku menggerutu. “Ya, sebentar, ibu! Aku sedang membereskan kamar!” Balasku tak kalah kerasnya, tetapi hanya bunyi pertemuan besi yang menyahutku kembali. Ah sudahlah, aku tak terlalu lapar.

Tanganku langsung meraih telepon genggam yang tergeletak kemudian membukanya sekali lagi untuk hari ini, memancarkan foto Tuan yang tenggelam dalam eksperimen. Selalu saja ada senyum tipis yang terselip ketika melihatmu menggunakan jas putih itu.

Aku mengunci telepon genggamku kembali dan menaruhnya di atas meja. Masih ada hari esok di mana aku bisa menikmati kehadiranmu di laboratorium itu.

Dan renjana nan mengusik ‘tuk nanti.

 

Untuk Tuan yang akan perjuangkan sang merpati.

16.03.2015
Maria Utari.

Pinokio

Posted: February 25, 2015 in Maria Utari

Katanya
Wajah Tuan keras namun halus
Seperti kayu yang dipelitur
Kiranya apa semua berpikir begitu?

Ya, Pinokio
Aku setuju dengan sebutan itu
Bukan karena tekstur paras yang sempurna
Tapi suatu kekecewaan terbekas samar

Kepolosan butakan jiwa
Egoisme sebabkan mara
Ah, apa mungkin aku saja yang terlalu perasa?
Namun siapa tak mau cicip afeksi fana?

Jujur, aku bukan Geppeto yang akan korbankan
Atau Mangiafuoco sang pemaaf
Ah, tapi apa dikata
Aku ialah pembual realita

Teringat kata Sang Rama
Semua miliki dua sisi berbeda
Memang begitu nyata adanya
Sang boneka kayu kan jadi ibnu berkat cita

25.02.2015
Maria Utari

Halo Di Akhir Bulan Februari

Posted: February 24, 2015 in Maria Utari

Maaf atas judul yang terlalu basi, saya memang tak pandai menamai sesuatu.

Tak baik memulai sesuatu tanpa perkenalan walau terlambat. Seperti kata pepatah, “Tak kenal maka tak sayang”, bukan? Saya tidak mengharap afeksi lebih dari anda, tetapi akan lebih menyenangkan hati jika anda menikmati apa yang dihaturkan saya dan teman-teman saya di blog ini. Apalagi jika tulisan-tulisan kami dapat menjadi inspirasi anda dalam berbagai macam aspek, dari kehidupan sehari-hari atau motivasi untuk terjun ke dunia sastra Indonesia yang menurut mayoritas itu “mudah”. Saya tidak menganggap tulisan saya sudah baik, saya masih belajar untuk mengerti estetika sebuah sastra.

Saya meminta maaf jika apa yang saya tulis di sini tidak terlalu menarik bahkan memunculkan mara di hati. Saya sadar, terkadang saya menulis menggunakan perasaan yang terlalu gamblang, bahkan terkadang menggunakan kata-kata atau adegan eksplisit yang mengganggu. Namun, saat ini masih saya minimalisir karena tulisan-tulisan asli yang saya buat akan disunting cukup banyak sebelum dipampang di sini. Maklum, saya masih terlalu privat untuk pemikiran-pemikiran saya dan saya bukan orang yang cukup jujur dengan apa yang saya rasakan kepada orang lain, kasarnya saya adalah munafik. Tak apa anda memanggil saya seperti itu, karena tujuan saya agar membuat orang-orang saya merasa tentram dengan apa yang sudah ada.

Sekali lagi saya meminta maaf dengan apa yang telah saya tulis ini. Saya tidak ingin bersikap kasar namun kata-kata ini belum dapat merangkum apa yang hendak saya sampaikan. Bagaimana rasa senang dapat bercerita hingga rasa malu karena saya akan dihakimi oleh banyak orang hanya karena tulisan saya.

Selamat sore dan selamat menikmati.

Maria Utari