Halo Di Akhir Bulan Februari

Posted: February 24, 2015 in Maria Utari

Maaf atas judul yang terlalu basi, saya memang tak pandai menamai sesuatu.

Tak baik memulai sesuatu tanpa perkenalan walau terlambat. Seperti kata pepatah, “Tak kenal maka tak sayang”, bukan? Saya tidak mengharap afeksi lebih dari anda, tetapi akan lebih menyenangkan hati jika anda menikmati apa yang dihaturkan saya dan teman-teman saya di blog ini. Apalagi jika tulisan-tulisan kami dapat menjadi inspirasi anda dalam berbagai macam aspek, dari kehidupan sehari-hari atau motivasi untuk terjun ke dunia sastra Indonesia yang menurut mayoritas itu “mudah”. Saya tidak menganggap tulisan saya sudah baik, saya masih belajar untuk mengerti estetika sebuah sastra.

Saya meminta maaf jika apa yang saya tulis di sini tidak terlalu menarik bahkan memunculkan mara di hati. Saya sadar, terkadang saya menulis menggunakan perasaan yang terlalu gamblang, bahkan terkadang menggunakan kata-kata atau adegan eksplisit yang mengganggu. Namun, saat ini masih saya minimalisir karena tulisan-tulisan asli yang saya buat akan disunting cukup banyak sebelum dipampang di sini. Maklum, saya masih terlalu privat untuk pemikiran-pemikiran saya dan saya bukan orang yang cukup jujur dengan apa yang saya rasakan kepada orang lain, kasarnya saya adalah munafik. Tak apa anda memanggil saya seperti itu, karena tujuan saya agar membuat orang-orang saya merasa tentram dengan apa yang sudah ada.

Sekali lagi saya meminta maaf dengan apa yang telah saya tulis ini. Saya tidak ingin bersikap kasar namun kata-kata ini belum dapat merangkum apa yang hendak saya sampaikan. Bagaimana rasa senang dapat bercerita hingga rasa malu karena saya akan dihakimi oleh banyak orang hanya karena tulisan saya.

Selamat sore dan selamat menikmati.

Maria Utari

Detik demi detik, waktu terus bergulir.
Tanpa ampun dan tanpa toleransi.
Gerimis ini menyadarkanku akan semua hal yang menyakitkan.
Ku duduk pada sebuah bangku yang sudah lapuk.
Seakan menggambarkan keadaan ku.

Entah mengapa semua ini terjadi.
Dengan cepatnya merobek jiwa.
Dengan mudahnya menghentakan rusuk ini.
Brengsek.
Siapa yang berani melakukan semua ini? “Takdir” jawabnya.

Lantas, apa yang seharusnya aku harapkan dari dunia ini?
Sebuah cinta?
Sebuah harapan?
Atau sebuah kasih sayang?

Sayangnya hidup tak semudah membalikan telapak tangan.
Semua butuh pengertian jika ingin dimengerti.

Aku lelah..
Kupandangi hujan lagi.
Nampaknya perlahan aku mulai mengerti.
Rintik-rintik hujan mulai membasahi halaman rumah ini.
Kuhirup nafas panjang…
Aroma aspal yang terkena guyuran hujan sangat menenangkan.
Ya, suasana ini begitu damai dan menyenangkan.

Aliran air di selokan pun seakan menghapus semua hal yang membuat ku resah.
Derasnya hujan yang membanting dirinya di permukaan daun tersebut seakan menghapus sedih dan marah ku pada mereka.

Aku ini ingin selalu merasakan seperti ini.
Merasakan hujan di bulan November yang begitu damai.
Kumohon…

Dari gadis lugu dibulan November, Mendung.

Chat  —  Posted: February 24, 2015 in Mendung

Posted: February 22, 2015 in B.S.C

Letakkanlah aku dipojok yang paling sudut..
Biar malam menghampiriku
Biar gelap menyelimutiku
Biar dingin menamparku
Biar kesepian perlahan meretasku

Aku ingin jadi pelita..
Walau hanya seperti petir dikala mendung
Akan ku singkirkan yang melintang
Akan ku perbaiki jalan yang rusak
Jalan kita bersama
Menuju nirwana

#PutraSurya
B.S.C
140215

‘Malem Pertama-an’

Posted: February 22, 2015 in Mecin

21:27

Selamat senja.
Malam? Bukan. Senja, bagi mereka yang menelusuri dunia saat sebagian dari mereka sudah mendengkur lelap di alas masing-masing.

21:30

Penerangan sudah hilang sejak 30 menit lalu. Namun satu jiwa masih berkutat dibalik layar. Biasanya Nyonya Besar akan mengamuk kala tahu masih ada jiwa yang belum terlelap. Namun kali ini kami lolos.

21:34

“Tidur, goblok.”
Tubuh memaki jiwa yang tidak pernah sekali saja memedulikannya.
“Mata gue aja masih kebuka,”
“Ya, kan, karena lu paksa.”
Tinggalah mata yang penat. Kubu mana yang harus dibela?

21:37

Organ tunggal dengan lihai bernada di kampung sebelah. Nyonya Besar suatu waktu dulu bilang, “Artinya entar malem ada yang malem pertama-an.”
Terlintas saja harus menelan tawa.
Seutas kabel melambai-lambai dari kejauhan minta diajak tidur. Hmmm, setidaknya lebih oke walaupun senada dengan lagu ‘Malam Pertama-an’.

21:42

Mengecap-ngecap, soto betawi masih menggantung. Daging bermandikan kuah santan, diiringi potongan kentang, taburan bawang goreng, emping, dan nasi pulen. Persetan.

21:47

Tulisan ini hanya adek kelas diantara tulisan-tulisan lain. Tapi, tidak akan terwujud sosok kakak kelas tanpa adek kelas bukan?

21:48

Sial. Nyonya Besar menemukan kami. Habislah.
“Udah gue bilang dari tadi, tidur.”
“Di sini seninya. Dan yang begini yang diinget sampe ubanan.”

Dan entah pukul berapa tulisan ini diunggah.

-Mecin

Hai, Hehe

Posted: February 22, 2015 in AlimutsuguA

Kadang penyesalan memang selalu datang terakhir. Gatau juga sih dia mampir di mana, ntah kesiangan atau kejebak macet, namun yang jelas, kalau si penyesalan sekolah di sekolahku yang sebentar lagi akan ku tinggalkan ini, pasti dia kena point. Minimal 5 lah.

Ah, intro yang jelek jayus kurang bagus.

Halo! Maafkan keterlambatanku dalam memberi sambutan di sini ya. Sebenarnya waktu itu udah mau nulis, cuma tiba-tiba mood hilang, jadi gajadi deh. Hehe. Nulis blog gini emang butuh ketidakmageran yang tinggi. Blog sendiri aja gak keurus, apalagi mau ngurus ini. Huhu. Untung ada teman-teman seperblog-an yang sudah mengisi blog ini duluan, jadi setidaknya blog ini sedikit hiduplah. Terima kasih teman-teman :’)

Di awal paragraf (emang ini paragraf ya?) aku menulis kata penyesalan. (sengaja di italic biar keren) sekarang aku ingin bertanya, apakah kalian pernah menyesali sesuatu? Aku pernah. Sering malah. Contohnya beberapa bulan yang lalu, ketika aku lebih mementingkan chatting ketimbang istirahat. Aku chatting dengan.. ehm seseorang (yang spesial tentunya) hingga larut. Alhasil keesokan harinya aku bangun kesiangan. Sholat kesiangan. Mandi kesiangan. Makan kesiangan. Berangkat pun kesiangan. Akhirnya telat sampe sekolah deh. Dapet point deh. Lumayan sih buat koleksi, hahaha gakdeng-_-

((Di situ kadang saya merasa menyesal))

#Yhaaa

Pesan saya, biar gak menyesal, kalo mau bertindak dipikirin dulu baik-baik. Lihat ke depannya gimana kalau kamu mengambil tindakan itu. Jangan sampe pada akhirnya menyesal. Dan kalaupun sudah terlanjur menyesal, jadikanlah penyesalan itu sebagai pelajaran untuk ke depannya. Udah gitu aja.

Maaf (lagi) kalo absurd. Tuntutan negara sih nulis ginian hehe gakdeng. Semoga dengan entri saya kali ini, bisa sedikit mewarnai blog basagita. Hehe. Pamit dulu yaa, ciao!

-AlimutsuguA-

Bromocorah

Posted: February 22, 2015 in B.S.C

Ada yang hilang
Ketika dia ambil sesuatu
Orang lain diperkaya
Dirinya yang kehilangan
Orang lain hilang barangnya
Tapi dia remuk nalurinya

Setelah kau curi beberapa dari mereka,
Kau menangis,
Terisak,
Tersungkur,
Tak berdaya
Kau biarkan anak dan istrimu makan uang haram
Sisa sisa kekejaman jalanan

Satu dua kali kau lolos
Dua tiga kali kau pulang dengan hidung penyok penuh darah
Tiga empat kali kakimu yang mulai gontai
Aku sungguh khawatir…
Empat lima kali sinar matamu mulai redup

B.S.C
220215

Salam

Posted: February 22, 2015 in Jiwa

Halo.
Selamat membaca.

Berusaha memberikan sedikit energi lagi pada blog ini. Sebelumnya hendak meminta maaf karena saya mungkin tidak memiliki kemampuan merangkai kata semahir kawan – kawan yang lain, menyebut diri sebagai bagian pun mungkin masih terlalu lancang. Tapi juga tidak ingin menyianyiakan energi dan pikiran yang begitu meluap saat ini.

Sejak pagi hingga menjelang kembali pagi,badan saya terasa begitu panas saya kira hal tersebut dikarenakan saya mengenakan baju berwarna hitam yang memiliki emisivitas cukup tinggi, jadi saya merasa kegerahan. Malam hari barulah saya sadar bahwa panas yang saya rasakan karna saya akan bertemu hal yang baru atau lebih tepatnya saya ditemukan. Blog ini menemukan saya, membangunkan apa yang dulu pernah saya cintai yaitu kata kata.

Sekian perkenalan dari saya, saya Jiwa.

Kisah Seorang Pria.

Posted: February 21, 2015 in Canting

1 September 1994.
20 tahun yang lalu, tepatnya.

                            ***

Pagi selalu kau hiasi dengan uapan mu yang khas. Bayangan rutinitas monoton menghantui lagi. Tapi kau tenang, lantas bangun dan beranjak membasuh diri. Tak jarang kau habiskan waktu mu untuk berfikir. Sesaat setelah bangun tidur mu, disela tawa bahkan sedihmu.

Jalan lagi. Bus lagi. Asap lagi. Itu itu saja. Hanya itu saja pemandangan yang dapat mata mu tangkap.  Tak ada yang spesial ketika orang melihatmu. Sepatah sapa sederhana dari kerabat, mungkin. Lebih sederhana lagi, kau balas dengan teriakan “Oi!”. 

Lalu semua kembali seperti biasa.
Dunia yang bising, juga sunyi.
Yang ramai, juga sepi. 

Kau itu pria kesepian. Tapi alam selalu bisa menjawab segala tanyamu. Dan kau selalu kembali padanya. Untuk menuntut keramaian. Menuntut kedamaian. 

Musik kencang bermain terus terus an di kepalamu. Entah apa maksudnya. Apa artinya.
Kau hanya dengan seksama mendengarkan. Menenggelamkan dirimu di dalamnya.
Tak hanya itu, lantunan nada damai dari musisi kondang yang tak lapuk termakan usia itu juga kian menghiasi pendengeran mu. Lagu lagu nya yang kontroversial, bahkan terkadang menyayat para pejabat itu terekam jelas dalam ingatanmu. Terekam sangat jelas, sampai kau hafal detail kecilnya. 

Kau terlihat sangat menikmati kesendirianmu, ya?
Aku tahu.
Aku pun begitu.

Kemana saja angin membawamu, takkan jadi masalah. Karena kau menikmatinya. Teramat menikmati.
Tapi kau juga benci.
Benci sendiri.

Sampai disini, aku masih belum berhenti tersenyum.

Kagum. Kagum karena kau kuat. Bukan kuat otot. Tapi kuat hati.

Pria, menangislah sekali sekali. Tak akan jadi masalah. Ayo, teteskan air matamu. Supaya kau lega. 

Aku selalu tertarik untuk memperhatikan mu. Gerak gerikmu, pembicaraanmu, semuanya begitu menarik. Kalau ini mimpi, aku memilih untuk tidur saja. Dan menikmati mu.

Malam menyapa dan kau sudah duduk tenang. Terkadang kau terpaksa menghirup asap rokok yang bukan milikmu. Tertawa bahkan terdiam mendengar cerita teman temanmu.

Terkadang kau sudah dirumah. Duduk di kursi sambil memandang berita politik yang itu itu saja. Atau dengan penuh rasa kau sapa kucing peliharaan mu itu, si mbul.

Lalu kau terkapar dikasur mu lagi, pulas karena lelah, atau terjaga karena gundah. 
Pria, kau pasti punya mimpi.
Wujudkan lah.
Kau tau kan kau tak sendiri lagi?
Ada aku.
Aku bukan hanya bersedia menyemangatimu sekarang.
Tapi 24 jam penuh memegang pom pom ku dengan riang. Untukmu. 

Pria, buktikan keberadaan mu bukan sekedar debu.
Sepuluh, dua puluh, bahkan lima puluh tahun lagi, aku masih akan tetap disini. Memperhatikan mu yang sedang menikmati kenyataan.
Mimpi mimpi mu yang telah terwujud menjadi kenyataan.

Lupakan takdir takdir bodoh mu itu, Pria. Kau bukan penunggu takdir!
Kau penjemput masa depan.
Jemput masa depan mu, yang akan mengganti kan peluh dan setiap tetes keringat yang kau usap hari ini.

Aku menulis tentangmu bukan karena tak ada kerjaan. Kerjaan ku menumpuk. Kau tahu itu. 

Aku menulis tentangmu karena sosokmu itu terlalu berharga jika hanya kusimpan dalam memori. Belum tentu aku dapat mengingatmu sampai tua nanti.

Tapi kalau aku lupa padamu, tolong ingatkan aku lagi ya? Karena jika kau tak melakukan nya, aku akan kehilangan ingatan terindah yang pernah ada dalam otak yang mungkin kapasitasnya tidak mencapai 7% ini. 

Selamat ulang tahun, Pria.
Aku mencintaimu.

                                                  Canting.

Posted: February 21, 2015 in Uncategorized

Oke. Kurasa sudah cukup dengan pembukaan panjang yang sudah anda baca dalam 4 postingan terakhir (atau pertama?). Sekarang anda akan memasuki bagian Isi. Bagian dimana anda akan menemukan gubahan-gubahan lain dari penulis-penulis kami yang unik. Gubahan yang lebih bervariasi, lebih berwarna, atau (semoga) lebih berarti.

Saran dan tanggapan sila sampaikan pada kolom komentar yang telah disediakan di setiap entri.

Terima kasih.
Selamat …………………………mencicipi.

Tentang Kata

Posted: October 14, 2014 in Puan

Maafkan bisuku jika tidak banyak ikut berbagai hal yang menjadi sarapan malam di basagita. Hanya saja, aku ini tidak pernah begitu baik dengan orang lain karena temanku adalah canggung. Baiklah, jadi namaku Puan dan menjadi bagian dari basagita ini adalah wadah yang baik untuk pikiranku yang selalu menggubrisku tak kenal waktu.

Dan yang sedang kupikirkan sekarang adalah kata. Kata dalam suatu tulisan bak jaringan dalam anatomi makhluk hidup. Selnya ialah huruf. Kalimat adalah organ, paragraf adalah sistem dan keutuhan tulisan itu ialah individu. Kalau memang fungsi tulisan adalah sebagai individu itu artinya pula aku sudah memiliki puluhan anak, bahkan mungkin ribuan dari mulai tulisan pertamaku saat bisa belajar menulis sampai esai-esai sejarah yang menjadi tugas di sekolah sampai tulisan ini sendiri. Tulisan menurutku ialah sebuah media yang paling indah dari segala macam media lain yang ada. Mengapa kau tanya? Karena mereka tak berevolusi, tulisan tidak membutuhkan green screen untuk menjadi sesuatu yang menggelegar serta tak butuh speaker stereo agar terdengar lebih bagus. Menulis juga tak butuh warna, karena warna itulah yang diciptakan lewat tulisanmu itu. Dari zaman Marah Rusli sampai sekarang menulis hanya butuh dua, kertas dan pensil. Sungguh, dengan dua hal itu dunia bisa kita buat menjadi indah dengan tulisan.

Takkah kau baca karya-karya terdahulu yang mendeskripsikan langit temaram saja bisa sampai satu paragraf? Atau menjelaskan tentang betapa sunyinya malam hingga di atas ranjangmu bisa terdengar suara jangkrik yang sedang asik? Sebegitu indahnya kata bagiku.

Walau begitu kata tak bisa pula menyampaikan keutuhan sebuah pikiran atau ide, karena yang diinginkan adalah keindahan dari sebuah siratan yang memiliki tafsir masing-masing. Baiklah, kuberikan contoh padamu.

“Manisku jauh di pulau,

kalau ku mati, dia mati iseng sendiri.” (Anwar, Chairil : 1946)

Satu, kalau boleh kutafsirkan, penggalan itu menceritakan kekasih yang terpisah laut dan Aku terancam mati. Dua, bisa jadi penggalan itu menceritakan tentang Aku yang ingin mati saja karena iseng mereka sudah tak sejalan lagi. Tiga, Aku pergi sengaja mau mati karena manisnya sudah tidak jelas main iseng. Empat, isilah, tempat ini untukmu, …………………………………………………………………………………………………

Belakangan ini aku sedang sering baca-baca sajak lagi karena aku sedang cinta dengan siratan dan keindahannya yang dibiarkan begitu saja. Tapi keindahan itu tak hanya dalam sajak sungguh. Dalam cerita keseharian pun pemilihan kata menjadi salah satu pelukis senyumku. Baiklah, kuberikan contoh bandingkan.

(1) Aku sedang patah hati karena dia tak lagi suka.

dan.

(2) Aku sedang merasakan remuknya rasa yang tak terdeskripsikan. Ini semua karena dirinya yang tak lagi menaruh hati padaku. Pantas saja hatiku kosong, ia mengambil simpanan hatinya di diriku tanpa ketuk pintu. Jadilah dalam diriku angin mondar-mandir mengisi kekosongan itu, dingin.

Tidakkah yang kedua lebih indah? Aku objektif sungguh, karena dua-duanya aku yang membuatnya. Kalau kau membaca kalimat pertama di suatu buku, pasti yang terbangun adalah kau jadi teringat akan momen patah hatimu, tapi belum tentu karena dianya yang tak lagi suka. Di kalimat kedua, pasti yang terbangun adalah kau memposisikanmu sebagai sesuatu yang berisi dan tiba-tiba isimu diambil tanpa pemberitahuan. Lalu kau kosong tak punya isi padahal segala dari dirimu adalah isi, bukanlah rupa fisikmu. Bayangkanlah jika kau tak berperasaan lagi dan tersesat karena kekosongan itu.

Tulisan itu indah bukan? Mereka sederhana hanya pena dan kertas. Semaju-majunya tulisan sekarang bisa diolah di Microsoft Word. Diksi itu indah. Rima itu indah.

Mungkin tulisanku ini sekadar pikiran aneh tentang kenapa aku begitu cinta dengan tulisan. Aku sudah terbiasa dicap memiliki pikiran yang aneh karena entah aku terlalu berpikir ke depan atau terbelakang (baca: lemot). Ngomong-ngomong aku memang ingin jadi penulis buku atau setidaknya cerpenis.

Oh ya, satu hal lagi yang aku suka dari buku. Wangi kertas dari buku lama yang sudah menguning kecoklatan selalu menggugahku.

Salam,

Puan